Wahai Akhwat, Jangan sampai kepingin jadi vokalis seperti Nissa Sabyan.
Perempuan itu tidak disyariatkan mengumandangkan adzan dan mengimami manusia. Mereka dianjurkan tepuk tangan dalam shalat jika ingin mengingatkan imam yang salah dan tidak dianjurkan baginya mengucap tasbih agar suaranya tidak menimbulkan fitnah. Maka bagaimana mungkin mereka diperbolehkan menyanyi didepan para lelaki ajnaby?!
Mau sholawatan kok pake' musik, itu niat mau nikmatin irama musiknya atau pingin ibadah?
Rasulullah dan para sahabatnya dahulu, mengenal nyanyian yang disertai dengan alat-alat musik sebagai "Seruling-seruling syetan". Dalilnya adalah hadits Nabi shallallaahu alaihi wa salam berikut ini,
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :
دخل علي أبو بكر وعندي جاريتان من جواري الأنصار تغنيان بما تقاولت به الأنصار يوم بعاث قالت وليستا بمغنيتين فقال أبو بكر أبمزمور الشيطان في بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وذلك في يوم عيد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا أبا بكر إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا
"Abu Bakar masuk menemuiku , saat itu di sampingku ada dua gadis kecil dr tetangga kaum Anshar yg sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshar pd saat perang Bu'ats".
'Aisyah melanjutkan kisahnya :" Kedua gadis kecil tersebut bukanlah penyanyi. Lalu Abu Bakar pun berkata : "Seruling-seruling syetan kalian perdengarkan di kediaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ?". Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya 'Ied. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita."
[Shahih. Muttafaqun 'alaih]
Dalam hadits diatas, Ketika Abu bakar masuk kedalam rumah Rasulullah dan menjumpai didalamnya ada dua gadis kecil yg sedang menyanyi, Abu bakar langsung menegur dengan keras Aisyah dan dua anak kecil tersebut, Abu bakar menyebut nyanyian yg dinyanyikan oleh dua gadis tersebut dengan sebutan "seruling-seruling syetan", Rasulullah tidak mengingkari perkataan Abu bakar tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkari ucapan Abu Bakar bahwa nyanyian adalah seruling-seruling syetan, hanya saja Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengajarkan kepada Abu bakar tentang adanya nyanyian dan musik yang diperkecualikan, yaitu pd saat hari raya.
Hadits ini juga memberitahukan kepada kita bahwa nyanyian dan musik itu haram, inilah yang diyakini Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. dari manakah kau kira datangnya keyakinan Abu bakar ini kalau bukan dr hasil didikan Rasulullah kepadanya sebelum peristiwa diatas terjadi?! sehingga beliau mengingkari dengan keras ketika ada dua anak kecil yg menyanyi dirumah Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam, hanya saja beliau belum mengetahui tentang adanya nyanyian dan alat musik yang diperkecualikan pd saat hari raya sampai Rasulullah memberitahukannya.
Kata Aisyah radhiyallahu anha kedua gadis tersebut hanyalah anak kecil biasa dan tidak berprofesi sebagai seorang penyanyi/biduanita, namun itupun sudah membuat Abu bakar murka, Lantas bagaimanakah menurutmu jika kedua gadis itu adalah wanita dewasa yg profesi sehari-harinya adalah menyanyi/biduanita?!
Sebelumnya kita sudah pernah sama-sama mendengar sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam,
لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ
Sungguh akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.
(HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. as Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Beliau shallallaahu alaihi wa sallam juga bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik
(HR. Bukhari)
Allahu a'lam

Komentar
Posting Komentar